| Making Money? Theology of "Where" |
|
Reformational Worldview Distance Learning
Making Money? Theology of "Where"

Dalam buku "John Calvin Rediscovered: The Impact of His Social and Economic Thought" (WJK Press, 2007) diuraikan tentang peranan Calvin dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Pelayanan dan pengajaran Calvin dinyatakan dalam konteks perkotaan dengan segala dinamika perkembangan dan perubahan serta tantangan kebutuhan manusia. Dengan latar belakang ini, kita melanjutkan renungan kita sebagai umat tebusan Kristus dalam konteks panggilan-Nya bagi kita di tengah-tengah dinamika perubahan abad ke-21 di Indonesia, khususnya kita akan merenungkan kaitan antara "uang dan lumbungnya" dalam terang firman Tuhan.
Tanggal 19 Mei 2012, Pkl. 19.00-21.00 STT Amanat Agung • Jl. Kedoya Raya No. 18 Jakarta Pendaftaran (Free) klik di sini
|
|
| Pergantian tahun mengingatkan kita akan sejauh mana
perjalanan hidup kita sudah berlangsung. Ia tidak berbicara soal bagaimana kita
hidup. Ia tidak menyediakan kertas evaluasi kehidupan kita. Ia hanya bermaksud
menyatakan seberapa banyak usia hidup kita.
Namun menariknya, penanggalan tidak dapat dihitung tanpa
referensi. Sejarahwan gereja mula-mula, Eusebius menanggalkan kelahiran Kristus
dengan referensi kepada penciptaan langit dan bumi. Ia dapati pada tahun ke
5200. Ketika kekaisaran Romawi berkuasa, maka penanggalan dihubungkan dengan
“sejak Roma berdiri” (Ab Urbe Condita).
Kelahiran Tuhan Yesus menandai penanggalan yang kita gunakan
saat ini. Kita menggunakan istilah B.C. (Before
Christ) dan A.D. (Anno Domini, “in the Year of the Lord”). Tradisi ini
dimulai oleh Dionysius Exiguus pada sekitar tahun 533 A.D. dan disempurnakan
oleh Paus Gregory yang menciptakan penanggalan Gregorian. Sedangkan penggunaan
B.C. merupakan karya Isidore of Seville (570-636 A.D.).
Maka pergantian tahun bukan lagi sekedar mengukur sudah
berapa lama kita hidup di dunia ini, atau sudah berapa tua-kah perjalanan
sejarah umat manusia, melainkan berkaitan dengan rangkaian karya Allah di dalam
Kristus atas segenap ciptaan.
Untuk itu alangkah bijaknya jika kita merenungkan kembali
perjalanan langkah kita dengan langkah-langkah Yesus Kristus, Tuhan dan
Juruselamat. Langkah kita tidak semestinya diukur dengan odometer seperti mobil
untuk menentukan nilainya, melainkan bagaimana posisi dan arah kita di hadapan
Tuhan semesta alam. |
|
|
|
Seluruh kehidupan manusia ditandai dengan dua keadaan, yaitu bangun dan tidur. Keduanya memberi makna bagi kehidupan itu sendiri. Kata tidur dalam bahasa Inggris (sleep) berasal dari kosa kata Jerman (schlafen) yang diambil dari kata Gothik “sleps” yang menandai kelelahan tubuh manusia. Kelelahan dan kerengangan otot menyatakan keadaan tubuh yang kemudian mengindikasikan tahapan kenyenyakan tidur seseorang. Tidur tidak hanya menyatakan keadaan fisik manusia, juga menyatakan keadaan mentalnya. Martin Luther memperkenalkan kata ‘schlummern’ yang berkaitan dengan kata ‘slumber’ dalam bahasa Inggris menunjukkan keadaan mental seseorang. Kata ini sejalan dengan kata “drusian” (dreosan, to fall) yang menggambarkan keadaan tenggelam, dan terperosok. 
|
|
|
| Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merenung artinya diam memikirkan sesuatu, memikirkan atau mempertimbangkan dalam-dalam. Mengapa kita perlu merenungkan peristiwa Natal? Bukan untuk membuat kita termangu, bukan pula untuk mengenang atau sekedar nostalgia bulan Desember melainkan untuk memahami dan mengalami Natal yang sesungguhnya. Renungan pendek bermaksud menemani bapak/ibu/sdr/sdri untuk mengalami kelimpahan kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus dalam peringatan Natal.
Mari kita renungkan bersama:
1. Kelahiran Yesus Kristus merupakan peristiwa menakjubkan. Perpaduan antara Ilahi dan manusiawi berlangsung tanpa meniadakan ataupun merusak satu dengan lainnya. Kelahiran-Nya berlangsung dalam rahim perawan yang bernama Maria, oleh Roh Allah yang menenunnya. Dan bayi yang dilahirkan itu selayaknya bayi-bayi lainnya, bergantung sepenuhnya kepada sang ibu yang menjaga dan merawat-Nya. Saat yang sama, kelahiran bayi itu telah menakjubkan sang ibu ketika mendengar berita yang disampaikan Malaikat. Maria, seorang yang beribadah, tidak menyangkal maksud Allah baginya. Namun yang menjadi persoalan baginya adalah “bagaimana.” “Bagaimana hal ini mungkin terjadi karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34). Gereja sebagai umat tebusan TUHAN, sudah sepatutnya siap sedia seperti Maria ketika menerima maksud dan rencana TUHAN Allah atasnya. Namun pertanyaan Maria, mendorong kita untuk merenungkan langkah berikutnya. Langkah yang di dalamnya kita turut serta dalam maksud Allah itu. “Bagaimana” hal itu mungkin terjadi, merupakan kesediaan kita untuk turut serta sekaligus menguji apakah langkah kita seturut dengan maksud Allah yang kita terima itu. Gereja tidak hanya memahami misi dan visi TUHAN Yesus Kristus, namun memahami pula bagaimana turut serta dalam misi dan visi itu sehingga kasih karunia Allah digenapi di dalam dunia yang berdosa ini.  |
|
|
|
Dear All Salam dalam Kristus
Perkenankan saya mensharingkan pertanyaan yang sering kali muncul dalam percakapan konseling: "Bagaimana kita memahami panggilan (vocation) Tuhan dalam kehidupan kita?"
Ada tiga hal yang perlu kita pahami dalam panggilan (vocation) Tuhan bagi kita selama di dalam dunia:
(1) Konteks di mana kita hidup. Kita saat ini hidup dalam transisi modern dan postmodern. Dunia modern menyediakan sistim kehidupan yang berangkai dengan pendidikan kita. Pendidikan atau pembelajaran menjadi pintu penting kehidupan kita karena berangkai dengan ukuran prestasi, dan karier kita masing-masing. |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 5 |